Dalam praktik Makassar Art Walk, peserta disebut sebagai Observatorium Nomaden. Istilah ini menegaskan posisi peserta sebagai pengamat yang bergerak, yang membaca kota sambil mengalaminya secara langsung. Berjalan tidak diperlakukan sebagai aktivitas santai, melainkan sebagai metode artistik sekaligus riset: sebuah cara untuk mendekat pada ruang, mengenali detail yang luput, dan membongkar hubungan kuasa yang bekerja di dalam lanskap kota.
Sebagai Observatorium Nomaden, peserta melakukan observasi tanpa jarak aman. Mereka hadir dengan tubuhnya sendiri, menyusuri jalan, gang, batas-batas wilayah, ruang terlantar, zona transisi, hingga area yang sering terhapus dari narasi resmi. Observasi tidak berhenti pada bentuk fisik ruang. Peserta mengamati pola pergerakan, ritme kerja, tanda-tanda ekonomi, jejak sejarah, serta perubahan-perubahan kecil yang menunjukkan bagaimana kota terus dibentuk dan diperebutkan.
Pengetahuan dalam praktik ini lahir dari perjumpaan. Peserta belajar membangun kontak dengan warga, mendengar cerita, memperhatikan percakapan, dan menangkap suasana. Karena itu, praktik ini menekankan pengalaman situasional: apa yang terjadi saat berjalan, apa yang muncul secara tak terduga, dan bagaimana tubuh merespons ruang. Praktik Observatorium Nomaden mengakui bahwa riset tidak pernah netral. Peserta membawa posisi sosial dan cara pandang tertentu, sehingga mereka perlu sadar etika, risiko, dan konsekuensi dari proses mengamati dan merekam.
Observatorium Nomaden juga menolak pemisahan tegas antara seni, arsitektur, dan aktivisme. Praktik berjalan dapat berkembang menjadi berbagai bentuk kerja: performans kolektif, eksplorasi wilayah, pemetaan alternatif, pendokumentasian berbasis arsip, atau intervensi simbolik yang menandai ulang ruang. Yang dipentingkan bukan produk akhir sebagai tujuan tunggal, melainkan proses berjalan itu sendiri sebagai tindakan kritis: cara untuk membaca kota dari bawah, menguji ulang siapa yang memiliki ruang, dan membuka kemungkinan cara hidup yang lain di dalamnya.
