Percakapan dengan Tanah: Catatan Riset Artistik Moncongjai

Oleh Aziziah Diah Aprilya Tidak semua pohon itu bijak.  Ada yang menyimpan batas, tipuan, dan trauma. Lalu bagaimana manusia yang hidup di sekitarnya memaknai pohon-pohon dan tanah? — Dusun itu bernama Moncongjai, artinya Banyak Gunung.  Hamparan berbagai puncak gunung terlihat di sana. Ada Bulu Biru, Bulu Lohe, Bulu. yang saya lupa nama lokalnya tapi artinya…

By.

min read

Oleh Aziziah Diah Aprilya

Tidak semua pohon itu bijak. 

Ada yang menyimpan batas, tipuan, dan trauma.

Lalu bagaimana manusia yang hidup di sekitarnya memaknai pohon-pohon dan tanah?

Dusun itu bernama Moncongjai, artinya Banyak Gunung. 

Hamparan berbagai puncak gunung terlihat di sana. Ada Bulu Biru, Bulu Lohe, Bulu. yang saya lupa nama lokalnya tapi artinya alis. Dari kejauhan ia memang memanjang seperti alis. Mungkin gunung itu memang sebuah wajah, tapi apa yang sedang ia tatap?

Segala nama itu disebutkan oleh Husein. Menurut Kartu Tanda Penduduknya, Husein lahir pada tahun 1954. Tapi ia yakin bahwa itu bukan tahun lahirnya. Pengalaman ini bukan hanya terjadi di Husein. Banyak warga Moncongjai yang tidak tahu tahun lahirnya secara pasti. Tapi setiap kali kami kebingungan dengan umur seseorang, Husein bisa langsung menyebutkan tahun lahir mereka tanpa ragu. Walau kita bisa menganggap ingatannya kuat, tapi saya lebih senang menganggap bahwa itu karena Husein tumbuh seperti pohon enau di sana. Tidak berpindah dan terus bermanfaat bagi warga sekitar. Apalagi dulu ia adalah seorang kepala dusun. 

Suatu sore saat saya dan teman-teman sampai di rumahnya, kami terus menatap jambu-jambu yang sudah ranum di atas pohon. Ia lalu mengambil inisiatif untuk memanjat, ingin mengambilkan kami buah itu. Kami tentu senang, sampai beberapa saat kemudian ada bunyi hentakan yang sangat keras terdengar. Lelaki itu jatuh!

Hampir seluruh lengannya berdarah. Kami panik dan merasa bersalah. Tapi orang yang terjatuh itu hanya tertawa. Ia kemudian mengambil beberapa daun kelor, menumbuknya, lalu mengolesi ke bagian kulit yang terluka. “Biasa ini” ucapnya santai. Setelah daun kelor itu mengering, Husein kemudian mengajak kami ke sawah. 

Berjalan di pematang sawah yang sedang kering itu mudah. Tapi beberapa saat kemudian, kami harus menyebrangi sungai. Namanya Sungai Walanae. Ia melintasi berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Menurut warga, saat musim kemarau, mesin pompa air akan berjejer di sekitarnya untuk mengairi sawah-sawah. 

Kami bertemu seorang lelaki yang tengah menyirami lahan kacang tanah. Ia tersenyum sangat lebar. Ia bercerita bahwa ada anak lelakinya yang telah wisuda dan sedang mencari pekerjaan di Makassar. Sedangkan anak perempuan satu-satunya lulus di salah satu kampus di Jakarta, tapi istrinya belum mau melepaskan anak itu pergi jauh dari rumah. Lelaki itu sendiri sebenarnya tidak masalah, ia hanya tidak tega jika istrinya terus menangis.

Dari kejauhan kami melihat asap. Seorang perempuan tengah membakar lahan. Metode ini untuk membuat tanah lebih siap untuk ditanami. Kami menghampirinya. Namanya Rani. Umurnya 40 tahun. “Bukan lahanku, saya pinjam lahannya orang” jawabnya saat kami bertanya tanah yang tengah ia garap ini milik siapa. Katanya, ia bekerja di lahan ini dengan sistem bagi hasil dengan sang pemilik tanah. Hasilnya ia pakai untuk kebutuhan sehari-hari dan uang sekolah anaknya. Suaminya sendiri bekerja di lahan coklat di Poso, Sulawesi Tengah. 

Kami berjalan pulang. Husein membawa kami ke jalan yang berbeda. “Ini jalan yang saya buat” ucapnya bangga. Beberapa meter kemudian, puing-puing jembatan kemudian terhampar di depan kami. Roboh karena banjir besar beberapa tahun yang lalu, kata Husein. Seharusnya kami bisa langsung berjalan di atasnya jika jembatan itu masih berdiri. Tapi karena telah roboh, kami perlu melewati sungai lagi. Arus air cukup deras di bagian sungai yang kini kami lalui ini. Saya perlu melepas alas kaki agar lebih mudah merasakan batu mana yang tidak terlalu licin untuk dipijak. Sapi-sapi menatap kami dari kejauhan. Mungkin mereka keheranan melihat para warga kota yang kaki-kakinya dibesarkan oleh beton jalan, yang tidak tahu cara melangkah di sungai. 

Sesampai di jalan raya, kami melihat berbagai truk, mobil, motor melaju begitu cepat. Jalanan ini memang sibuk karena ia adalah jalan poros yang menghubungkan beberapa kabupaten. Banyak warga Mocongjai yang berjualan buah-buahan di pinggir jalannya. Kebanyakan mereka menjual semangka. “Semangkanya ndak semua dari sini, ada dari luar karena banyak yang beli” kata Husein. Mita, salah satu teman membeli beberapa semangka untuk kami cemili. Segar dan manis. 

***

Kami bersepakat bangun lebih awal untuk masuk ke hutan. “Berapa lama jalannya, Pak?” Husein tersenyum dan langsung menjawab 10 menit. Tentu saja saya tidak percaya. Luka di lengannya telah mengering. Tapi dia merasa kakinya pegal setelah bangun. Walaupun seperti itu, ia selalu jadi orang yang paling cepat jalan. 

Saat kami melewati sebuah jalan di antara dua sawah, ia berucap sekali lagi bahwa ia yang membuat jalan ini. “Buat apa, Pak?” Ya, agar orang bisa gampang ke kebun. Jalanan perlahan mulai menanjak. Motor-motor yang membawa berbagai peralatan juga mulai naik. Kami–warga kota sekali lagi berjalan lebih lambat. 

Kami mengikuti jalur irigasi untuk masuk ke dalam hutan. Penuntun kami bukan lagi Husein, tapi suara air sungai. Bunga-bunga liar bermekaran di sepanjang jalan. Saya membuat buket kecil darinya. Saya hadiahkan kepada diri sendiri karena tidak mengeluh sepanjang perjalanan. Beberapa saat kemudian, kami berjalan di samping akar tebal yang berkali-kali lipat lebih besar dari saya. Akar itu tampak memeluk batu yang juga sama besar dengannya. Ini akar pohon mangga, kata Husein. Berapa tahun yang diperlukan pohon mangga untuk tumbuh agar akarnya bisa menjulur semegah itu? Berapa tahun yang diperlukan batu untuk percaya kepada akar agar akhirnya bisa memeluknya? Pertanyaan-pertanyaan aneh itu tinggal di kepala.


“Ini Akasia. Ini Jati Putih. Ini Mahoni.” jelas Husein setiap kali saya bertanya nama pohon-pohon di sekeliling kami. Ia bahkan bisa menyebut nama latinnya. Sebuah pengetahuan yang membuat saya iri setengah mati. Tapi hidup di kota memang membuatmu hanya hafal nama-nama cafe yang enak kopinya.  

Saat suara sungai sudah semakin jelas, Nurhady berteriak “Ini pohon kemiri!” dan Husein hanya mengangguk setuju. Setidaknya ada warga kota di antara kami yang mampu mengenal nama-nama pohon. Kemiri, Moncongjai, hutan, dan Maros adalah kata kunci yang membawa kami sebenarnya ke sini. 

Sebelum sebagian besar area Kecamatan Cenrana, Maros masuk ke dalam wilayah taman nasional dan hutan pendidikan Universitas Hasanuddin, pohon-pohon kemiri banyak hidup di sini.  Makkampiri, Mabbali, Makkalice–tiga masa panen kemiri yang dilakukan turun temurun oleh warga. Husein mengalaminya sewaktu ia masih kecil. Ketika kemiri sudah mulai berjatuhan dari pohon, ia dan teman-temannya akan pergi memungut biji yang biasanya akan dijual oleh para orang tua. Tapi saat pemerintah mulai menanam pohon pinus dan mematok-matok batas untuk menjadikan area itu “hutan”, warga sudah tidak boleh bertani kemiri. Mereka masih boleh masuk ke hutan, tapi banyak hal yang tidak boleh mereka lakukan. 

Lalu apa yang hilang dari warga selain tradisi makkampiri

“Kemampuan untuk berdaya. Dahulu hidup mereka mudah. Bahkan tidak butuh pemerintah. Dari kemiri, dapur mereka mengepul, anak mereka sekolah, dan mereka bisa naik haji. Bukan cuma itu, jalan-jalan ke kebun mereka bisa buat. Warga punya banyak waktu luang untuk berkumpul karena ekonomi mereka stabil oleh kemiri.” Kata Nurhady di satu sesi ngopi bersamanya. 

Kami lalu memeluk pohon kemiri yang sendirian itu. Mungkin dia kesepian karena kini sudah tua dan tidak berbuah lagi. Sudah tidak ada manusia yang berkumpul di bawahnya. “Kata penelitian, memeluk pohon bisa meredakan stress” ucap Mita, salah satu kawan kami. Tapi jika pohon memeluk manusia, apakah ia juga akan lebih lega? 

Ketika sungai sudah terlihat, kami duduk sejenak untuk merendam kaki. “Ini yang bikin saya selalu meneliti desa” kata Nurhady. Saya tertawa. Bagi anak kota seperti kami, ini yang disebut healing. Saya tidak tahu penyakit apa yang tengah tersebar di generasi saya, tapi harus saya akui mengalami udara bersih, sungai yang bening, juga pohon-pohon ialah memberi kesempatan kepada tubuhmu untuk bernafas. Rasanya ia menjadi jauh lebih jujur jika dekat dengan tanah, air, dan udara yang baik. Tapi harus saya akui, banyak pohon-pohon di sini yang justru menyusahkan kehidupan warga sekitar. Kita gampang bilang ini menyembuhkan, tapi mungkin bagi beberapa orang di sini, berjalan ke hutan artinya berjalan ke tanah-tanah nenek yang sudah tidak boleh diapa-apai. 

Kami berjalan kembali dan pohon-pohon mulai semakin banyak dan beragam. Suara tonggeret yang semakin keras melenyapkan keheningan di antara kami. Beberapa jamur terlihat. Kami telah berada di hutan. Husein mengajak kami ke rumah penyadap nira milik kerabatnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Lelaki itu dengan lincahnya membuka penutup wajan besar yang berisi nira yang masih panas. Ia mengambil sedikit nira dengan mangkuk dari batok kelapa lalu memberikannya pada saya. Saya mencicipinya perlahan. Rasa hangat dan manis nira mengalir di tenggorokan. Begitu segar di tengah hutan ini. Kawan yang lain juga mencicipi dan menyukainya. “Ada botolmu? Isimi” Kata Husein yakin. Beberapa orang langsung mengisi botol minumnya dengan minuman manis yang sebenarnya akan dijadikan gula aren itu.  

“Dulu di sini kampung. Kita bilang ini kampung Palanro karena banyak penyadap nira. Dulu orang tinggal di sini.” cerita Husein. Kapan orang mulai pindah? Saat gerombolan dan tentara datang. Warga tidak mau dianggap bersekongkol dengan gerombolan. Sampai sekarang warga masih boleh menyadap nira. Mereka hanya perlu membayar pajak setiap tahun untuk gubuk (rumah penyadap nira) yang mereka dirikan di tengah hutan. 

Kami menemukan bekas pecahan piring dan gelas. Mungkin dari bekas kehidupan warga di Palanro. Tapi yang pasti, jejak pemukiman itu sangat jelas karena kami melihat beberapa kuburan. “Ini kuburan anak-anak” kata Husein. Ukuran petaknya memang hanya sekitar 1 x 0,5 meter. Beberapa pohon pinang tumbuh di atas kuburan seolah anak-anak kecil itu kini tumbuh dewasa menjadi pohon. 

Bekas lain dari kehidupan Palanro ialah batas yang disusun dari batu-batu seperti pagar. Aneh sekali rasanya pemukiman bisa menghilang dalam waktu sekitar 60 tahun. Apakah memang itu sudah cukup lama untuk membuat orang betul-betul pergi? 

Kami kemudian turun untuk kembali. Beberapa pohon dipaku dengan plat yang menunjukkan nomor-nomor. “Ini pasti untuk mengidentifikasi jumlah pohon” kata salah satu teman. Tapi kenapa harus sampai dipaku? 

Bagi saya, ternyata sulit sekali untuk melangkah turun. Seperti selalu ingin terjatuh. Kami kembali mengambil jeda di sungai. Ada capung merah yang tengah kawin. Indah dan aneh sekali. Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan perjalanan lagi dan akhirnya sampai di jalan yang beraspal. Jalanan itu masih sangat curam. Kami lalu mencoba melangkah mundur. Ternyata jauh lebih mudah. 

“Jalan kaki membuat tubuhmu lebih mudah menavigasi arah” kata Nurhady. Betul juga. Mudah sekali menemukan belokan mana untuk pulang karena kami punya waktu yang cukup untuk mengingat penanda kami–kebun jagung, pohon, sawah, sungai. Tidak mungkin melakukan itu di Makassar. Jalan kaki ialah hal yang nyaris mustahil, selain itu naik motor dan mobil membuatmu lebih suka terburu-buru. Gedung dan jalanan hanyalah gambar lalu yang ingin kau skip seperti iklan youtube. Tubuhmu hanya merekam suara klakson dan titik-titik pos polisi. 


***

Seorang perempuan tengah memotong rumput gajah yang lebih tinggi dari dirinya. Tubuhnya kecil tapi sebenarnya ia telah berumur 57 tahun. Ia perlu untuk berhenti tiga kali untuk membawa rumput gajah sampai ke kandang sapinya. Suatu waktu perempuan itu pernah berteriak “Mama! Capekka!” saat tengah membawa rumput padahal mamanya sudah meninggal–dikubur di dekat kebun rumput gajah itu. Ia sebenarnya tidak suka dengan kegiatan berkebun. Baginya, satu-satunya yang menyenangkan hanyalah ketika ia mengambil kemiri bersama kakek dan neneknya sewaktu ia kecil. “Seperti main-main” kenang Hera–nama perempuan itu. 

“Dulu nenek tidak terima itu orang pemerintah karena mereka minta kebun kemiri. Setelah meninggalpi baru mereka bisa ambil” cerita Hera. Ia sudah tidak pernah ke sana karena kebun itu terlalu jauh untuknya. Dua sapinya menatap kami. Katanya dulu Hera punya 30 sapi tapi banyak meninggal. Mereka terkena sebuah penyakit yang membuat darah keluar dari pori-pori kulitnya. 

Hera bercerita bahwa sebelum pinus ada, sapi-sapi lebih bebas karena banyak tanah lapang dan rumputnya masih bagus. Tapi ia dan sepupunya dulu membantu pembibitan pinus dari pemerintah, walau ia merasa ditipu karena dia hanya diupah setengah dari besar gaji yang dijanjikan. “Saya takut” ucapnya lirih. “Aneh ya, bu? Kita takut sama orang yang harusnya lindungi kita”. 

Hera bercerita kalau semua saudaranya pergi merantau di Maluku, jadi ia yang harus mengurus bapaknya sekarang. Hera sendiri belum menikah dan memilih untuk mengangkat keponakannya sebagai anak. 

Siang hari itu, Hera pamit pulang duluan karena takut bapaknya mencarinya. Hera juga perlu menyiapkan makanan. Ia berjalan menurun dengan memakai tongkat kayu. Itu membantunya bisa berjalan sangat cepat. Ia juga membawa plastik yang berisi jagung, tomat, cabe, dan beberapa tumbuhan obat untuk asam lambung dan asam uratnya. Kami bertanya dimana ia mendapatkan tumbuhan obat itu dan dia bilang ini semua ada dimana-mana–di pinggir sungai, di pinggir jalan, di pinggir hutan. Saya baru sadar, bunga-bunga yang saya kumpulkan menjadi buket itu ialah bagian dari tumbuhan obat. “Tapi harus betul meraciknya, kalau tidak ia malah jadi racun” Entah siapa yang pernah mengatakan itu. 

Dalam satu buku tentang jamur yang saya sukai, penulisnya mengatakan bahwa jamur itu serupa manusia. Kita tidak hanya membawa lanskap, leluhur, trauma, pengetahuan, dan mikroba di tubuh, tetapi juga sistem yang membuat kita terlibat dalam sesuatu yang rumit. Kita akan selalu menjadi bagian dari apa yang kita anggap tidak baik. Tapi seperti tumbuhan obat, kita hanya perlu meraciknya dengan hati-hati  agar ia tidak menjadi racun. 

Geo-koreografi; Lanskap yang Menubuh

Jika saya mengumpulkan berbagai kata kunci selama mengalami Moncongjai, saya merasa ada keterikatan historis yang kuat antara warga dan tanahnya, tapi sekaligus keterbatasan dalam menjejakinya. Tegangan ini banyak terjadi di wilayah-wilayah konflik agraria. Namun dari segala batasan itu, tubuh akan selalu menjadi rekaman yang jujur. 

Ada sebuah konsep yang saya dapatkan dari buku jamur yang saya sukai itu. Geo-koreografi. Ide itu berasal dari Carolina Caycedo, seorang seniman. Ia terinspirasi dari proyek yang ia kerjakan bersama komunitas yang terdampak El Quimbo, bendungan hidroelektrik di Sungai Magdalena, Colombia. Ia percaya bahwa geografi sebuah tempat dapat mempengaruhi gestur dan perilaku masyarakat sekitarnya. Sehingga setiap pengetahuan itu sebenarnya menubuh dan menjadi spesifik bagi suatu tempat. Kegiatan yang berulang-ulang dan turun-temurun menciptakan memori otot yang terhimpun menjadi pengetahuan yang spesifik. 

Saat penelitian ini, saya mengingat cerita bagaimana sekelompok mahasiswa dari Hawaii yang menjadi tim peneliti diberikan lokakarya jongkok agar mereka bisa dengan mudah untuk buang air di toilet warga. Tentu ini karena umumnya warga Indonesia memakai kloset jongkok, sedangkan di Amerika mereka menggunakan kloset duduk.  Inilah salah satu contoh koreografi yang hanya melekat di wilayah tertentu. 

Bagi saya, posisi jongkok ini bukan hanya untuk kegiatan buang air. Ketika membayangkan tubuh para warga yang tengah mengumpulkan kemiri yang jatuh di tanah, gestur jongkok yang langsung terlintas di kepala saya. Berjalan mendaki, membungkuk, dan  jongkok–tiga gerakan yang harusnya paling akrab dengan tubuh warga Moncongjai karena bentuk lanskap dan kehidupan sosialnya. 

Selain gerak, bahasa juga membentuk keterikatan spesifik kepada sebuah lanskap. Nama-nama lokal setiap gunung dan wilayah yang masih diingat warga juga penting untuk menjaga keterhubungan itu. Jika nama-nama mulai diseragamkan, maka dia akan mudah dibuang dan dilupakan.

Fermentasi Radiasi, platform pertunjukan bisa menjadi salah satu medium untuk menggerakkan dan membunyikan koreografi lanskap itu lagi. Tentu dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh tubuh si aktor yang asing bagi kehidupan Cenrana. Ditambah kini tim kerjanya mayoritas menghabiskan waktu di kota–yang sebenarnya memiliki geo-koreografinya sendiri. Tapi ini bisa menjadi sebuah percakapan tubuh yang menarik. Tentang kelambatan dan kecepatan, tentang rural dan urban, tentang beton dan sungai, tentang pohon dan gedung, tentang jongkok dan duduk. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *