Makassar Art Walk adalah laboratorium praktik spasial. Ia muncul dari ketidakpuasan terhadap cara arsitektur dan perencanaan kota memahami ruang secara tidak kontekstual dan terlepas dari situasi sosialnya, cenderung teknokratis, dan terpisah dari pengalaman tubuh dan memori kolektif. Makassar Art Walk memosisikan kota sebagai medan hidup yang harus dialami, bukan sekadar digambar atau dihitung.
Metode utama Makassar Art Walk adalah berjalan. Berjalan dipakai sebagai alat observasi, riset, dan produksi pengetahuan. Fokusnya bukan pusat kota yang mapan, melainkan wilayah marginal, ruang terlantar, zona transisi, dan area yang luput dari perhatian institusi. Dengan berjalan, mereka membaca jejak sosial, ekonomi, politik, dan sejarah yang tidak tercatat dalam peta resmi.
Istilah Observatorium Nomaden, merujuk ke peserta yang melakukan walking art, menegaskan posisi sebagai pengamat yang bergerak. Observasi tidak dilakukan dari jarak aman, tetapi melalui keterlibatan langsung dengan ruang dan warga. Pengetahuan lahir dari perjumpaan, percakapan, dan pengalaman situasional. Ini bukan riset netral. Ini riset yang sadar posisi dan risiko.
Observatorium Nomaden menolak pemisahan tegas antara seni, arsitektur, dan aktivisme. Praktik bisa hadir sebagai performans kolektif, eksplorasi wilayah, pemetaan alternatif, atau intervensi simbolik. Yang penting bukan produk akhir, tetapi proses berjalan itu sendiri sebagai tindakan kritis.
Secara konseptual, Makassar Art Walk hendak berkontribusi pada pemahaman berjalan sebagai praktik spasial dan politik. Mereka menunjukkan bahwa tubuh yang bergerak dapat membuka cara lain membaca kota, terutama kota yang dibentuk oleh eksklusi, ketimpangan, dan sejarah kekerasan ruang.
Bagi konteks Makassar Art Walk, digunakan bahwa berjalan bisa menjadi laboratorium. Bukan laboratorium steril, tetapi laboratorium yang kotor, terbuka, dan berisiko. Kota sebagai medan uji. Tubuh sebagai alat baca.
