
Catatan Riset Artistik oleh Fikram Azhari
Dg Ngati pertama kali menginjakkan kaki ke kebun saat usianya baru lima tahun. Ia mengikuti mamanya yang sedang mengangkut kayu bakar, dan dengan langkah kecilnya, Dg Ngati membantu menjunjung kayu itu, meski lebih banyak bermain ketimbang bekerja. Kebun itu bukan hanya tempat tumbuhnya pohon-pohon, melainkan juga tumbuhnya kenangan masa kecilnya.
Sebagai anak bungsu, Dg Ngati punya ikatan kuat dengan tanah itu. Sepulang sekolah, langkahnya selalu menuju lahan yang dimiliki orang tuanya. Bersama teman-teman, ia bermain di bawah rindang pepohonan—pohon mangga, jambu, hingga pohon kakao. Buah-buahan menjadi mainan, tanah menjadi tempat berlari, dan suara alam menjadi lagu pengiring masa kecilnya.
Namun segalanya berubah ketika suara mesin bulldozer mulai terdengar. Hari itu, Dg Ngati yang baru pulang sekolah tidak diizinkan mamanya pergi ke kebun. Ada rasa heran dalam hatinya, tapi lebih banyak rasa kecewa karena tak bisa bermain seperti biasa. Bulldozer itu datang untuk meratakan tanah—tanah yang selama ini ia anggap rumah kedua.
Mama Dg Ngati dan ia tidak menyaksikan perataan lahan itu. Mereka memilih menjauh, tak sanggup melihat kebun yang sudah mereka rawat bertahun-tahun dihancurkan begitu saja. Lahan itu bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga warisan, dan tempat bersemainya kebahagiaan kecil Dg Ngati.
Selama seminggu, Dg Ngati tak lagi bermain di kebun. Ia hanya berada di rumah, bingung, kehilangan arah. Hingga akhirnya, suatu sore sepulang sekolah, ia nekat pergi ke kebun. Namun yang ia temui hanya tanah rata, sisa akar-akar yang mencuat tak beraturan—seolah menggambarkan kepedihan yang belum sempat diucap.
Dengan mata berkaca-kaca, ia pulang ke rumah dan langsung menanyakan kepada orang tuanya, “Kenapa pohon-pohon di kebun kita ditebang?”
Jawaban mama hanya singkat: “Karena pemerintah mengusir kita dari lahan kita.”
Sejak saat itu, permainan Dg Ngati berubah. Dari yang tadinya bermain buah-buahan segar, kini ia mulai membentuk sesuatu dari tanah liat. Ia bakar seperti proses pembuatan batu bata yang dilakukan bapaknya di kebun.
Dg Ngati baru mengetahui lebih banyak tentang siapa yang merampas tanahnya saat ia duduk di bangku SMP kelas 2. Sepupunya, yang bekerja di PTPN, secara tidak langsung membukakan tabir kelam masa kecilnya. Ternyata tanah itu, tanah tempat bermain dan hidup keluarganya, adalah milik neneknya. Kini telah dikuasai oleh PTPN—melalui perantara kepala desa.
PTPN masuk ke Polongbangkeng pada tahun 1982, melakukan penanaman pertama dengan alasan pembebasan lahan. Tapi tidak ada sosialisasi. Warga hanya diberitahu bahwa tanah mereka dikontrak selama 25 tahun. Kepala desa menyuruh warga menyimpan bukti surat-surat kepemilikan, namun semua itu tidak berguna saat pohon-pohon mereka ditebang. Ganti rugi pun diberikan per pohon—jumlah yang tak sebanding, bahkan dipotong dengan alasan yang tak jelas.
Harusnya tanah itu kembali pada 2007. Tapi sampai tahun-tahun berlalu, tak ada tanda-tanda pengembalian. Warga melakukan aksi besar-besaran menuntut keadilan. Saat itu, suasana memanas hingga terjadi penembakan dan warga pun diungsikan. Dg Ngati yang masih kecil menyaksikan keresahan yang terus menghantui Polongbangkeng. PTPN berdalih bahwa tanah tersebut telah diganti rugi dan kini menjadi milik negara.
“Saya kaya dengan apa yang dimiliki mama saya, dari hasil kebun, tidak ada kekurangan,” ujar Dg Ngati suatu hari, mengenang masa kecilnya yang berkecukupan secara sederhana namun penuh cinta.
Namun kekayaan itu dirampas begitu saja. Mama Dg Ngati terpukul. Ia harus menyerahkan tanah yang diwarisi dari ibunya, karena jika tidak, ancaman pengusiran dari kampung terus menghantui. Setahun setelah penggusuran, mama Dg Ngati jatuh sakit. Hari-harinya dihabiskan di dekat jendela, menangis dalam diam. Itu menjadi pemandangan yang menyayat hati Dg Ngati setiap hari.
Warga lain pun mengalami nasib serupa. Mereka diminta menyerahkan SPPT dengan janji palsu bahwa akan dimudahkan saat proses pengembalian. Tapi kenyataan berkata lain.
Bagi keluarga Dg Ngati, momen kebersamaan usai panen—di mana seluruh keluarga besar berkumpul untuk makan bersama—menjadi kenangan paling hangat yang kini hanya tinggal cerita. Dg Ngati pun kini bertekad, ia ingin berjuang. Ia ingin kebunnya kembali.

Tinggalkan Balasan