Kelas Kuratorial

Salah satu program utama Makassar Art Walk adalah Kelas Kuratorial, yang menginkubasi peserta melalui bacaan dan diskusi sebelum melakukan riset berbasis jalan, pengalaman tubuh, dan kerja kuratorial yang responsif terhadap ruang serta konteks sosialnya. Kelas ini berangkat dari keyakinan bahwa kurasi tidak lahir dari ruang steril, melainkan dari perjumpaan langsung dengan kota: ritme kehidupan sehari-hari, lapisan sejarah yang tidak tercatat, serta berbagai ketegangan sosial yang melekat pada ruang.

Tahap awal kelas membangun fondasi konseptual melalui bahan bacaan, presentasi, dan diskusi kelompok. Peserta mendalami gagasan tentang berjalan sebagai metode riset, praktik spasial, politik ruang, serta cara membaca kota di luar narasi pembangunan yang dominan. Diskusi tidak dipakai untuk mencapai kesimpulan tunggal, tetapi untuk mempertajam posisi, memperluas perspektif, dan memetakan pertanyaan riset yang relevan dengan konteks Makassar.

Setelah fase inkubasi, kelas bergerak ke praktik lapangan melalui kegiatan berjalan. Berjalan dipahami sebagai metode observasi yang menempatkan tubuh sebagai alat baca. Peserta menelusuri wilayah marginal, ruang terlantar, zona transisi, dan area yang luput dari perhatian institusi. Dalam proses ini, peserta merekam detail ruang, pola aktivitas, relasi sosial, serta jejak ekonomi dan sejarah yang sering tidak masuk dalam peta resmi. Pengamatan juga dilakukan melalui percakapan dan perjumpaan, sehingga riset tidak berhenti pada bentuk ruang, tetapi menyentuh pengalaman hidup yang membentuk ruang tersebut.

Kelas Kuratorial menekankan bahwa kerja kurasi menyangkut cara menyusun isu dan membangun hubungan. Peserta dilatih merumuskan problem, menyusun narasi, memilih medium, dan menentukan bentuk presentasi yang paling sesuai dengan karakter ruang. Hasil kelas bisa berwujud pameran, pemetaan alternatif, arsip berjalan, tur performatif, publikasi, atau intervensi simbolik. Kelas ini mengajak peserta memahami kurasi sebagai praktik yang sadar posisi: bekerja bersama kota, bukan sekadar mengambil kota sebagai latar. Kota menjadi laboratorium terbuka. Tubuh menjadi metode. Kurasi menjadi tindakan untuk membaca, menguji, dan mengaktifkan ulang ruang.